Majalah Marketing - May 2018Add to Favorites

Get Majalah Marketing along with 7,500+ other magazines & newspapers

Try FREE for 7 days

bookLatest and past issues of 7,500+ magazines & newspapersphoneDigital Access. Cancel Anytime.

1 Year$99.99 $49.99 Save 50%

bookLatest and past issues of 7,500+ magazines & newspapersphoneDigital Access. Cancel Anytime.
(Or)

Get Majalah Marketing

Buy this issue $2.99

bookMay 2018 issue phoneDigital Access.

Subscription plans are currently unavailable for this magazine. If you are a Magzter GOLD user, you can read all the back issues with your subscription. If you are not a Magzter GOLD user, you can purchase the back issues and read them.

Gift Majalah Marketing

  • Magazine Details
  • In this issue

Magazine Description

In this issue

Kini semakin banyak merek Indonesia yang berjaya menembus pasar mancanegara. Perkembangan ini sejalan dengan makin meluasnya perjanjian free trade area di berbagai kawasan dunia, termasuk Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA), AFTA, dan lainlain. Jauh sebelum itu, sejumlah merek lokal kita ternyata sudah menggarap pasar global. Keberanian mereka patut diapresiasi lantaran sebagian besar marketer masih terlena hanya menggarap pasar dalam negeri. Harus diakui jalan menembus pasar internasional sering berlikuliku. Pertama, perlu riset mendalam untuk memahami kondisi pasar dan regulasi bisnis di negeri tujuan. Soffell, misalnya, sudah lama ‘menggigit’ beberapa negara ASEAN. Di Thailand dan Vietnam, Soffel berhasil karena ditunjang oleh riset user attitude dan product fitness. Riset tersebut meliputi kebiasaan pemakaian obat nyamuk di negara tujuan serta tempat-tempat di mana konsumen biasa membelinya. Dengan begitu, Soffell bisa menentukan jenis produk dan saluran distribusi yang tepat. Lain lagi kisah yang dialami Kuku Bima sewaktu ‘menjajah’ di Filipina— negeri yang karakternya juga tidak jauh berbeda dengan Indonesia. Setelah mengantongi izin perdagangan dari pemerintah Filipina, Sido Muncul memasarkan Kuku Bima secara langsung melalui kemitraan dengan distributor lokal dan memasok 10 juta sachet ke negeri kepulauan tersebut. Entry barrier justru terletak pada merek itu sendiri. Nama ‘Kuku Bima’ memang terkenal di Indonesia, tapi kurang familiar di telinga orang Filipina. Tim marketing mereka pernah berniat menggantinya dengan nama baru. Namun, lantaran proses branding ini bakal memakan waktu lama dan biaya besar, akhirnya nama ‘Kuku Bima’ tetap dipertahankan.

  • cancel anytimeCancel Anytime [ No Commitments ]
  • digital onlyDigital Only